Langkah Kaki Terhenti, Kakek Yang Mengobati

15 06 2009

Seorang anak melangkahkan kakinya menuju arah pulang, keringat lelah bercucuran mengguyur tubuh kecilnya, keringat itu membuat basah pakaian yang dikenakannya sehingga sedikit nampak tubuh kecil yang penuh tulang iga yang ada didadanya, tapi saat itu dia tak menghiraukan hal kecil seperti itu, yang ada dalam fikiranya hanyalah, hari ini dia merasa senang, dia merasa puas karena telah bermain seharian dengan penuh kegembiraan dan keceriaan bersama teman-teman nya, langkah demi langkah menyusuri jalan yang penuh bebatuan, kadang jalan menanjak ikut ada dalam perjalan pulang menuju rumahnya, meski tanpa alas kaki di telapak kakinya dia tak merasakan sakit yang menusuk-nusuk di telapak kakikinya, itu karena dia sudah terbiasa akan hal seperti itu. Memang di kampung itu belum terjamah oleh jalan yang beraspal dan enak bila di lalui. Tak terasa telah lama dia berjalan tak terasa sudah terlihat satu istana yang sangat megah di depan matanya, bila dia berada di dalamnya yang hadir di dalam dirinya hanyalah kenyamanan, kesujukan yang tak dapat tergantikan di tempat manapun. Saat tiba di depan pintu di tersenyum sebelum mengucap salam kepada orang yang berada di dalam rumah itu, senyum itu menandakan suatu kebanggaan terhadap rumah yang dianggapnya sebagai istana yang di miliki oleh seorang raja yang sangat bijaksana dan dia berfikir bahwa dialah sang pangeranya, ayahnya di ibaratkan sebagi seorang raja keluarganya, yang selalu melindungi dan mengayomi semua anggota keluarga yang ada di rumah itu.

Salam telah di lontarkan dari mulut kecilnya semua seisi rumah itu pun menjawab dengan senyum dan sambutan kasih sayang kepada anak itu. Tak lama waktu berselang dia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang basah kerena keringat yang menempel dalam tubuhnya, kini tubuh terasa kembali segar dan wajah yang bersihpun kini mulai terlihat kembali di dalam diri anak itu, dia duduk disofa tua yang ada di dalam rumah sambil menikmati sedikit makanan kecil yang di sediakan oleh ibu tercintanya, tak terasa adzan maghrib telah berkumandang menandakan dia harus segera bergegas mengambil air wudhlu untuk segera menghadapaNYA yang telah menciptakan dirinya kedunia, tapi ada satu hal yang terjadi waktu kaki anak itu hendak menginjak lantai yang berada di bawah sofa tua itu, rasa sakit yang berada di kakinya yang kini ia rasakan, mulut meringis kesakitan terlihat di wajahnya hingga dia pun harus memanggil Ayahnya kali ini, ternyata anak itu kini tak mampu berjalan tak mampu lagi menginjakan kakinya ke tanah yang ada di muka bumi ini.

Sungguh kasihan bila melihatnya waktu itu, kadang terfikir mungkinkah dia akan kehilangan kecerianya kali ini, kecerian bersama sahabat-sahabatnya, kecerian di saat dia bermain dan bersahabat dengan alam yang ada, dua jam kini ia lewati dengan rasa sakit yang begitu dahsyat, seolah rasa sakit itu akan meremukan tulang yang ada di dalam kakinya itu, sesekali Ayahnya memegang kakinya untuk sedikit di pijat dan pada saat itu anak itu menjerit tak tertahankan menahan rasa sakit yang di deritanya, hingga Ayahnya tak tega melihat anaknya selalu kesakitan , maka kali ini sang Ayah memanggil kakeknya untuk memijat kaki anak itu, itu dilakukan karena ayah tau bahwa putranya yang satu ini sangatlah menyayangi kakeknya itu mungkin apabila kaki tersebut di pegang oleh sang kakek anak itu akan lebih nyaman dan mampu mengihilangkan sedikit rasa sakit yang tersa di kakinya. Kakek kini mulai mengelus-elus kaki yang boleh dikatakan lumpuh kala itu, seolah tak ada satupun garakan yang menyakiti anak itu, dia merasa nyaman di dekat kakeknya itu, sungguh terliahat pemandangan yang indah antara kakek dan cucu kala itu, terkadang kakek dan cucu malah tertawa melapas canda yang di lontarkan oleh keduanya, kakek terus mengelus dengan tangan tuanya, tak ada satupun gerakan yang menyakiti cucu ke sayangannya, tak terasa telah satu jam kakek mengelus kaki anak itu, dan tak terasa anak itupun terlelap dalam tidur dalam elusan nyaman dari tangan tua itu.

Kini Pagi telah datang, dan mentaripun telah menerangi isi bumi, anak itu terbangun dalam tidurnya dia langsung beranjak dan keluar dari kamarnya, dia menuju halaman ruamah, dia belum tersadar kalau semalam dia tak mampu menginjakan kakinya di permukaan bumi ini, dia tersadar saat ayah menegurnya dengan ucapan, sudah bisa jalan lagi nak? Diapun tersadar kalau semalam dia baru saja kesakitan dalam kakinya hingga dia tak mampu berjalan menapaki lantai yang ada dirumahnya, diapun hanya mengangguk dan tersenyum senang dalam mejawab pertanyaan ayahnya. Dalam hati diapun berdoa semoga aku bisa terus berjalan tuk menapaki jalan yang ada di muka bumi ini.semoga…

Telah lama kini kakek telah tiada semoga dia selalu tersenyum berada di sisiNYA. ”Kakek,…. kasih sayangmu,senyummu, tawamu, pelukanmu, elusan hangat tanganmu, selalu ada di dalam hatiku. Terimakasih atas elusan tanganmu di kaki ku, hingga sekarang aku mampu kembali berjalan menapaki permukaan bumi ini, dirimu selalu ada dalam do`a ku” 🙂


Actions

Information

One response

16 06 2009
achoey

Kau
mengingat kakek yang baik
kau sungguh baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: