Kata Yang Ter Ucap

28 09 2009

Aku tertegun saat ku ucap kata yang membuat otak berfikir kembali apakah diri ini memang tak mendapatkan yang aku inginkan. Aku teringat kemarin saat aku sedang memperbincangkan masalah lebaran kali ini dengan saudaraku, di saat perbincangan sedang bergulir tak sadar aku ucap kata ”lebaran kali ini kok rasanya biasa aja ya” itulah yang ku lontarkan waktu itu, dan pada saat itu pula kulihat saudaraku hanya tersenyum, sehingga membuat aku ingin tahu senyum apakah yang engkau tunjukan kepadaku saudaraku?

Dan ketika ucapan itu terlontar sekitika obrolan kami terhenti, sehingga aku pun mulai mencari apakah sebenarnya jawaban dari senyum yang di lontarkan oleh saudaraku itu, otak pun berfikir seolah sedang memecahkan satu teka-teki yang rumit, dan ternyata jawaban yang aku dapatkan dari senyum itu adalah dari diriku sendiri yang…… astaghfiruloh, ternyata aku merasa tak mendapatkan apa yang aku inginkan selama satu bulan yang lalu hingga aku melontarkan kata-kata terasa biasa di saat hari kemenagan, ya allah apakah benar aku tak mendapatkan nya, sesungguhnya hanya Engkau yang tahu, dan semoga itu hanyalah lisanku yang tak mampu aku jaga dengan baik. Karena sesungguhnya aku ingin mendapat kemenangan di hari kemenangan…….





Pamit

14 09 2009

waktu semakin dekat……
dan esok pun aku akan meninggalkan kota ini….
tuk kembali ke tempatku pertama berdiri…

sahabat mungkin beberapa waktu aku kan menghilang….
dan sebelum aku menghilang ada ucap….

meski idul fitri belum tiba ingin ku ucap…
maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan ku selama ini…

salam persahabtan selalu 🙂
packing dulu ah hehew….





Mari Lestarikan Budaya Kita

9 09 2009

Malam telah menunjukan gelapnya suara gamelan pun telah mendayu-ndayu memecah kesunyian. Alur cerita pun mulai di pertontonkan semakin larut semakin seru cerita yang tengah di perlihatakan, terlihat seorang kesatria yang tampak gagah keluar siap melawan keangkara murkaan yang ada di bumi, dia mencabik musuh-musuh yang datang tuk mengacaukan kebaikan yang ada di dunia ini, itulah yang kulihat dulu pada waktu masa kecilku yang sebenarnya akupun tak tahu pasti apa isi sesungguhnya dari cerita itu, tapi yang jelas saat aku melihat pertunjukan itu aku mampu menangkap satu makna bahwa segala kejahatan yang dilakukan pasti mampu terkalahkan. Itulah pertunjukan wayang kulit yang mungkin dulu sangat sering kita jumpai.

Lambat laun waktu telah menelan pertunjukan itu, hingga jarang sekali kita mampu mejumpai satu pertunjukan itu saat kini. Entah kita memang sudah menganggap pertunjukan itu kuno atau karena kita sudah enggan melihat warisan budaya kita sendiri, saat kini khususnya remaja bila melihat pertunjukan seperti itu rata-rata akan mengatakan sudah ketinggalan jaman, mereka mengatakan kuno, mereka lebih suka duduk di bangku 21 yang empuk bersama pasangannya.

Sebenaranya telah pergi kemana mereka, tak lagi mau meliahat budayanya yang lambat laun semakin menghilang entah kemana, seharusnya kita yang merasa berjiwa muda mampu menghidupkan lagi warna budaya yang kita miliki, jangan malah semakin menjauhi apa yang telah kita miliki. sahabat marilah lestarikan budaya kita, jangan tinggalkan, jangan pernah lupakan, dan jangan biarkan bangsa lain mencuri kebudayaan kita lagi, paling tidak dengan melihat ini…..

Salah satu cuplikan pagelaran wayang kulit, Ki. Dalang Bayu Aji Pamungkas, Dengan Cerita Kurowo Nyadong,
kalo ngeliat sampai selesai jangan ketawa sendiri ya, takut di kira ……….





Singkirkan Kabut Tuk Gapai kehangatan

2 09 2009

Di pagi itu, kabut terlihat menutup dunia, hingga sekekliling tak mampu tertembus oleh pandangan mata, diri pun berabjak keluar dari ruang kecil yang terdapat satu kehangatan yang se titik, hingga kaki melangkah mencoba menembus kabut yang tebal untuk mampu menggapai terang yang penuh dengan kehangatan.

Sesungguhnya tubuh tak ingin beranjak dari ruangan yang sedikit hangat, tapi apakah diri harus tetap diam dalam hangat yang hanya setitik padahal di luar sana lebih banyak kehangatan yang ada, bahkan kehangatan itu mampu di dapat dengan mudah dengan kemauan untuk melawan kabut yang hanya sementara.

Tak ingin tubuh terus seperti ini, terus menggigil dan meski hangat tapi hanya se titik sesugguhnya diri masih menginginkan kehangatan yang lebih banyak hingga dapat satu ke hangatan yang abadi, tak ada kabut yang menyelimuti dan yang membuat tubuh terasa dingin. Terus langkahkan kaki hingga mampu menyingkirkan kabut yang sebenarnya sesaat hingga mampu mendapatkan satu kehangatan yang abadi untuk tubuh yang menggigil di pagi hari.