Lamunan Menjelang Ter Lelap

24 11 2009

Wangi selalu mengiri sebuah perjalanan yang panjang.
Indah terlihat warna yang memancar saat mata memandang.

Setangkai bunga berada di sisi tubuh.
Setia menemani di setiap langkah menyusuri jalan.

Tak ada rasa lelah, dan tak ada rasa takut dalam perjalanan.
Karena tubuh tengah terbius dalam sebuah ke indahan yang ia berikan.

Terasa damai saat berdua dan berjalan dalam sebuah ikatan.
Hingga mampu menggapai sebuah kebahagiaan.

Tapi semua itu pergi, saat bunga menghilang di sebuah ruang yang gelap.
Dan diri tersadar semua hanyalah lamunan menjelang terlelap.





Ringkasan Lembaran Hitam Si Kecil #2

24 11 2009

Lembaran ke tiga

Perjalanan hidup kian terasa semakin rumit begitu banyak rintangan yang semakin terlihat mendekat menghampiri dan di hampiri oleh langkah si kecil, helaan napas berulangkali dia lakukan tetapi tetap saja sesekali masih hadir sebuah lembaran hitam, si kecil tengah duduk di bangku kelas sebuah SMK yang memiliki latar belakang islam. dia terdiam meletakan kepalanya di atas kedua telapak tangan yang terselip sebuah alat tulis di antara selah jarinya, mata memandang langkah seorang guru yang tengah memasuki pintu ruang kelas yang tenang, sang guru segera membuka daftar hadir dan langsung memanggil satu persatu nama dari anak didiknya, hingga nama si kecil di panggil ada sebuah komentar yang terlontar dari guru itu untuk si kecil, “oh jadi ini nama nya anak yang waktu upacara tadi hormatnya gak bener” dengan enteng si kecil menjawab “ ah bu guru salah liat kali” dengan di iringi sebuah tawa yang yang seolah terlontar untuk menutupi sebuah kesalahan, dengan jiwa kesabaran seorang pendidik, guru itu hanya melontar senyum dan gelengan kepala, yang berarti sebuah kekecewaan atas sebuah jawaban dari seorang muridnya.

Hari itu tak banyak waktu untuk proses belajar mengajar, hingga membuat para murid harus segera meniggalkan sekolahan di waktu yang lebih awal, langkah berhamburan murid – murid terlihat meninggalkan halaman sekolah itu, dan seperti biasa banyak hal yang akan di lakukan si kecil dan kawan – kawannya di luar sana, ada satu usulan dari seorang kawan untuk mngunjungi teman dari sekolahan lain yang ada di kota itu, dengan menaiki beberapa sepeda motor mereka mulai menyusuri jalanan menuju sebuah tempat yang mereka rencanakan, tak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai ke tempat itu hanya dengan waktu sekitar sepuluh menit mereka telah sampai di tempat yang mereka rencanakan, sambil duduk di depan sebuah kantin si kecil memanggil seorang teman yang ada di sekolahan itu, ternyata sang teman tak hanya berjalan sendirian tapi ada beberapa anak lain yang berjalan di belakangnya, dengan senyum dan uluran tangan mereka mengucapkan salam persahabatan. Hingga sangat terasa kental sebuah persahabatan antara segrombolan anak remaja.

Tak terasa terik mentari sudah sangat terasa menyengat membakar kulit yang membalut tubuh si kecil dan kawan – kawan nya, panasnya matahari ternyata membuat mereka tak nyaman lagi berada di tempat itu hingga mereka putuskan untuk segera pulang ke rumah, tapi lagi – lagi ada sebuah ide yang berbuntut menjadi sebuah kejadian gila, seoarang teman mengajak untuk pergi ke terminal angkutan kota sebelum beranjak pulang ke rumah maklum karena di jam seperti itu di tempat itu akan terlihat para pelajar yang tumpah ruah menjadi satu dalam sebuah keramaian. Si kecil dan teman – temanya tengah duduk di warung es buah yang terletak di lingkungan terminal dan pasar itu, mata dan kepala mereka seperti di komando dengan kompak menggeleng dan melotot tanpa sadar ketika terlihat para gadis – gadis remaja berbaju abu – abu melintas di hadapan mereka. Tapi sebuah kenikmatan itu tak berlangsung lama ketika mereka melihat segerombolan manusia yang terlihat tengah saling serang, dan mata mereka terus focus ke jadian tersebut hingga mereka sadar bahwa beberapa di antara mereka ada beberapa teman, tanpa berfikir si kecil dan teman – teman nya langsung menghamapiri mereka dan langsung ikut melakukan sebuah penyerangan yang di anggap musuh oleh teman nya itu satu sampai lima pukulan telah di ayunkan oleh si kecil kewajah anak yang tak di kenal olehnya, pukulan itu terhenti saat telinga si kecil mendengar sebuah tembakan senjata api sebanyak tiga kali, dengan reflek yang cepat si kecil lari menjauh dari tempat itu hingga ia menemukan sebuah angkutan kota yang tengah berjalan, si kecil segera bergegas menaiki angkutan itu untuk menjauh dari kejaran polisi yang bersenjata api.

Beruntunglah si kecil mampu lolos dari sergapan polisi mungkin karena sebuah naluri kenakalanya hingga membuatnya seolah terlihat sudah terbiasa pada hal seperti itu. Angkutan kota berhenti di depan sebuah gang kecil di dekat jalan raya, terlihat si kecil keluar dari kendaraan itu dengan baju yang basah akibat keringat yang tercipta karena sebuah pelarian, hingga dia tiba kembali di sebuah istana kedamaian nya melepas lelah dan menghilangkan dahaga yang melanda, saat sore tiba terdengar kabar dari seorang teman ternyata setelah kejadian siang itu ada beberapa kawan yang tertangkap oleh polisi hingga mereka harus merasakan beberapa hari di balik jeruji besi, lagi – lagi terlontar syukur dari mulut si kecil karena telah mampu lolos dari sebuah kejaran yang menurutnya sangat menakutkan. Hingga itu semua menjadi sebuah lembaran hitam ke tiga dalam hidup si kecil.

Lembaran Ke Empat

Sebuah lembaran hitam si kecil di episode lanjutan sebuah perjalanan hidup seorang bocah kecil.langkah demi langkah telah di lewati oleh si kecil banyak lembaran hitam yang menghiasi jalan ke hidupan nya. Ada tiga buah pilihan dari ayah yang di tawarkan kepada si kecil untuk menentukan kemana arah tujuan yang akan di langkah kan setelah lulus dari smk pilihan tersebut merupakan satu pilihan yang bisa membuat si kecil bisa mencapai satu kebahagian dalam hidupnya di dunia, pilihan itu ialah Kerja, Kuliah, dan Nikah, tanpa ragu langsung mengambil pilihan yang ke dua karena mungkin sikecil sudah merasa berat untuk melanjutkan lagi ke bangku kuliah, apa lagi bila harus memilih sebuah pernikahan yang menurut si kecil adalah sebuah pilihan yang penuh dengan resiko. Tapi langkah si kecil terhenti saat akan memulai pilihanya itu, sang ibu mendekat nan berucap “ lanjutkanlah kuliah dulu nak baru kamu kerja “ si kecil langsung mencari sebuah alasan untuk menghindar dari sebuah pilihan yang tak di inginkanya dengan sebuah ucapan yang tak di duga “ biar aku gak kuliah gak papa bu, biar biaya kuliah ku untuk biaya kuliah adek saja besok ” sebuah jawaban yang manis tapi tak membuat sang ibu menyerah untuk membujuk si kecil masuk kuliah hingga si kecil pun luluh atas semua yang terucap dari ibu, memang si kecil yang nakal selalu kalah jiakalau ibu telah mendekat padanya.

Satu dan dua semester dilalui oleh si kecil dengan baik di universitas itu niali memuaskan dapat dikatakan baik, tapi ada sebuah cerita yang membuat si kecil kembali mengisi lembaran – lembaran hitam dalam perjlanan hidupnya, semester tiga si kecil mengalami satu kejenuhan dalam sebuah proses belajar hingga dia mencoba melakukan hal yang baru yang mungkin mampu menghilangkan sebuah rasa jenuh yang melanda, si kecil memutuskan untuk bekerja sambilan di tempat servis komputer bersama temanya, dan ternyata keputusanya itu adalah sebuah awal menuju kesalahan, dia harus merelakakn kuliahnya terbengkalai demi memenuhi tanggung jawab pekerjaanya, kuliahnya sering di tinggal bahkan si kecil rela masuk kuliah waktu ujianya saja demi sebuah pekerjaan yang hanya sementara, si kecil bekerja hanya sampai semester enam saja karena dia tersadar dia telah mengambil sebuah jalan yang tak sanggu bila di jalaninya.

Kembali seperti semula si kecil kembali belajar seperti biasa, tapi sisa waktu dua semester tak cukup untuk memperbaiki prestasi semester yang lalu yang terlihat jeblok waktu si kecil memutuskan tuk meniggalkanya, kini si kecil belum bisa menuntaskan kuliahnya walau kini sudah lima tahun lamanya dia duduk di bangku kuliah, ada sebuah semangat baru dalam hidupnya tuk menggapai sebuah tujuan di dalam ke hidupan nya hingga ada sebuah tekad yang terucap dari mulut si kecil “ mulai kini kan ku coba mengisi hari – hari ku dengan penuh lembaran – lembaran putih, dan semoga tak ada lagi lembaran – lembaran hitam yang terselip di antara lembaran – lembaran putih yang selalu ku dapatkan ”.





Ringkasan Lembaran Hitam Si Kecil

17 11 2009

Lembaran Pertama


Lelah terlihat seorang bocah kecil yang tengah duduk di batu besar dan kokoh, dia berada dalam sebuah lamunan yang sesekali di temani lemparan – lemparan kerikil kecil dari tangan nya. Banyak harap yang datang pada sebuah lamunan itu, ia tengah memikirkan sebuah cita – cita yang akan dia gapai kelak, banyak sekali yang dia inginkan dalam sebuah kehidupan di dunia, yang semuanya memiliki tujuan untuk mencapai sebuah kebahagian, di sore yang semakin memerah karena tibanya senja banyak hal yang ia fikirkan dalam sebuah lamunan hingga tak terasa dia telah duduk diam selama dua jam di atas batu besar itu, semua terpecah begitu saja saat terdengar suara memanggil – manggil namanya untuk segera bergegas pulang menuju sebuah kenyamanan istana. Si kecil tebangun dari duduknya tak menghilangkan jejak di sebuah batu yang penuh dengan harapan, langkah demi langkah menyusuri jalan yang curam menuju sebuah istana kedamaian.

Suara alam kembali terdengar kokok ayam membangunkan si kecil dari sebuah mimpi indah yang hadir dalam pejaman mata di malam yang dingin, bergegas ia menuju kamar mandi tuk membersihkan tubuh yang terliahat kusut karena rasa kantuk masih menempel di kedua matanya yang indah, tubuh terasa segar setelah tersiram beberapa guyur air yang dingin, sudah saatnya untuk bergegas mencari satu perjalanan tuk gapai satu impian, dengan mata memandang ke luar jendela kamar terlihat sebuah kecerian akan hadir di luar sana, tapi dia teringat kalau hari itu adalah hari jum’at ia sadar kalau hari itu harus memakai seragam olah raga untuk masuk ke sekolah, tapi entah kenapa si kecil memang lain dari anak – anak yang lain di saat anak lain terlihat senang dengan seragam itu dia malah merasa tidak nyaman bila memakai sebuah seragam yang sedikit elastis bila di tarik, pagi yang cerah berubah menjadi pagi yang membosankan hingga si kecil tak mau memakai seragam yang telah di siapkan ibunya, bahkan dia tak mau berangkat kesekolah bila memakai seragam yang telah di siapkan itu, kelakuanya itu membuat ayah geram melihatnya hingga ayah menyiramya dengan satu ember air ke tubuh si kecil yang di balut dengan kemeja kesayangan nya, semua itu membuatnya semakin jengkel dan benar – benar tak sudi untuk bergegas berangkat kesekolahnya, dia memilih menangis di dalam kamar yang terkunci rapat dari dalamnya. Sebuah lembar hitam pertama untuk si kecil.

Lembaran Ke Dua

Umur si kecil kian bertambah hingga ia telah masuk ke tingkat pendidikan menengah pertama, lagi – lagi dia memilki pemikiran yang lain dari teman – temanya entah kenapa waktu itu dia memilih untuk bersekolah di madrasah plus, yang artinya di dia tengah mencoba untuk menggapai impianya di sekolah yang di dalamnya juga terdapat sebuah pondok pesantren untuk mendidik siswanya, pada awalnya si kecil terlihat mantap tuk menuntut ilmu di ponpes itu, tapi setelah satu tahun berlalu dia terjangkit sebuah penyakit yang harus membuatnya perfikir untuk brgegas keluar dari ponpes itu, setelah satu minggu dia beristirahat di rumah ia langsung meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk keluar dari ponpes itu, kedua orang tua itu tak mampu menolak permitaan dari anak laki – lakinya yang mereka sayangi meski pada awalnya si kecilah yang meminta untuk di sekolahkan di sebuah ponpes.

Satu hari si kecil mulai menjalankan aktifitas belajarnya dengan suasana yang baru, di setiap pagi dia harus menempuh satu jam perjalanan untuk bisa sampai di tempat dia menuntut ilmu, di madrasah itu banyak hal yang tak mudah untuk di lupakan mulai dari menjadinya si kecil sebagai idola hingga kembalinya terukir lembaran hitam si kecil. Di madrasah itu si kecil sempat menjadi sosok idola dari gadis – gadis yang ada di sekolah itu hingga pernah dia mendapat sebuah surat dari seorang gadis tapi sayang si kecil tak tau apa arti dari isi surat itu hingga lembaran kertas indah itu di buang nya begitu saja, kepolosan nya itu ternyata membuat gadis itu terbakar suasana hatinya karena mengtahui si kecil telah menepis satu ungkapan hati sang gadis. si kecil hanya tertawa dalam sebuah kemenangan dalam satu prinsip, “aku tak akan mengenal lebih dalam seorang gadis dengan sebuah kata cinta, sebelum aku benar – benar tahu apa arti kata cinta, walau aku tahu sang gadis telah membuka hatinya dengan berjuta rasa cinta.”

Sudah cukup lama si kecil menjalani waktunya di madrasah tersebut, di balik cerita ke tenaran nya di mata gadis – gadis ada sebuah lembaran hitam yang kembali terlukis dalam perjalanan hidupnya, dimulai dari waktu istirahat tiba dan suara gemuruh terdengar karena langkah kaki para “santri.” begitulah para guru memanggil seluruh anak didiknya di madrasah itu, terlihat si kecil melangkahkan kaki dengan beberapa kawan nya menuju ke sebuah masjid yang memang di dirikan untuk memudahkan proses beribadah para guru dan santri, si kecil dan kawan nya bergerombol menuju lantai atas dari bangunan masjid itu tapi bukan beribadah yang mereka lakukan melainkan mereka beramai – ramai menghisap tembakau yang telah di bakar dengan korek api, hal tersebut tak berlangsung lama karena baru beberapa hisapan saja mereka ketahuan tengah berpesta tembakau oleh salah seorang guru yang menghampiri mereka di lantai atas masjid itu, beberapa kawan si kecil lolos dari sergapan guru itu tapi alangkah malang si kecil dan kedua kawan nya, mereka di giring ke depan kantor guru dan harus menjalani hukuman di tengah lapang yang luas dengan di saksikan benyaknya pasang mata manusia. Rasa malu, takut, penyesalan berbaur menjadi satu di tengah lapang yang panas itu.

Lembaran hitam si kecil di madrasah itu tak hanya sekedar itu saja masih ada satu lembaran yang membuat lembaran semakin terlihat hitam, bahkan bukan untuk si kecil saja tapi lembaran hitam juga membekas di halaman ke hidupan orang tua nya, setelah kejadian tembakau yang panas, si kecil tidaklah tersadar akan kesalahanya tapi dia palah semakin menjadi anak yang beringas dan terkendali, dia menjadi anak yang malas untuk belajar di madrasah itu, hingga dia mencatat sebuah rekor dalam sejarah hidupnya dalam hal menuntut ilmu, rekornya ialah dalam satu bulan penuh dua puluh sembilan hari dia absen dari sekolahnya, yang berarti hanya satu kali dia bertatap muka dengan para guru di madrasah itu, karena tingkahnya itu datanglah sebuah surat undangan kerumah si kecil yang di tujukan kepada orang tuanya, lagi – lagi ayah yang datang memenuhi surat undangan itu, dengan duduk di samping ayah si kecil terdiam mendengar semua apa yang di katakana oleh kepala sekolah hingga sang ayah mengelus kepala dengan di inringi nasihat yang membuat air mata tak mampu di bendung oleh si kecil, terpukul, ter enyuh, dan tersadar akan sebuah kesalah dalam hidup yang mwmbuat Lembaran hitam kedua si kecil kembali tertulis.

Masih ada beberapa lembar hitam yang ada dalam ke hidupan si kecil, ada banyak cerita di sana……





Kesejukan Dari Wanita Tua

12 11 2009

Terik mentari menyengat kulit terasa membakar lapisan tubuh, lelah terasa hingga membuat tenggorokan mengering dilanda ke hausan yang begitu dahsyat, ku langkahkan kaki keluar dari kamar kost untuk mencari satu angin kesejukan di siang yang panas, tak cukup rasanya menikmati semilir angin yang berhembus menghempas tubuh yang terbakar hingga ku susuri satu persatu anak tangga menuju ke bawah. Damai terasa saat ku dapatkan satu gelas air yang penuh dengan keringat karena dingin yang ada di dalamnya, ku nikmati tegukan demi tegukan air penyejuk itu di depan kamar teman kost yang ada di bawah dengan melempar canda dan tawa dengan seorang teman yang tengah membutuhkan satu kesejukan pula.

Tak terasa air dingin itu tinggal setengah gelas saja, dalam benak langsung berkata bersiaplah kembali kehilangan rasa kesejukan di siang yang panas dan terik, di tengah perbincangan yang semaikn seru, tiba –tiba canda tawa kami terhenti saat melihat sosok wanita tua yang berada di depan bak sampah yang ada di lingkungan kost kami, terlihat wanita tua itu tengah mencari – cari sesuatu di dalam bak sampah itu seolah – olah yang dia cari adalah benda yang sangat berharga nilainya di matanya, kulihat wanita tua itu tengah mengumpulkan lembaran – lembaran plastik yang menumpuk di dalam bak sampah, hati ini benar – benar tak kuasa melihatnya seorang wanita tua tengah mencari satu kehidupan di siang yang begitu panas dan harus bergelut dengan sampah untuk medapatkanya.

Rasa sedih, kagum, dan malu bercampur menjadi satu di siang yang terik waktu itu, hingga aku teringat tumpukan botol air minerel yang ada di dekat kamar kostku, dan ku katakan kepada temanku yang tengah berbincang dengan wanita tua itu supaya bergegas mengambil tumpukan botol itu untuk di berikan kepada sang nenek, saat botol di berikan kepada nenek terlontarlah kata – kata dari mulut nenek “maturnuwun yo mas, mbah ra iso mbales opo – opo , mugi – mugi pangeran nge kei sing penak le golek ilmu lan kepinteran kanggo mas.” ( “terimakasih ya mas, nenek tidak bisa membalas apa – apa , semoga allah memberikan kemudahan dalam menuntut ilmu dan kepintaran buat mas” ). Subahanallah ada do’a untuk kami dari sang nenek hingga semua rasa panas dan terik seolah terasa hilang dari dalam tubuh dan kesujukanlah yang datang menghampiri kami ber dua, samapai sang nenek berlalu dengan meninggalkan banyak pelajaran di siang yang tak lagi terasa panas.

Ingin kembali ku ucap terimakasih untuk nenek yang telah memberikan satu lagi pelajaran dalam perjlanan hidupku. Terimakasih ya mbah….





Secangkir Air Kehangtan

5 11 2009

Mata terbuka saat dingin nya pagi meraba tubuh, tak sanggup diri ini untuk segera bangkit dari ranjang yang tak begitu empuk, tubuh terus terdiam menikmati pagi dengan kehangatan selimut yang tebal membalut tubuh yang kecil, sugguh terasa berat pagi ini seolah terus ingin memanjakan diri dalam satu ruangan yang sempit dan dingin, terus mencoba untuk membuka kedua mata dengan memandang sekeliling kamar yang terasa pengab, terus memandang hingga mata harus terhenti di satu titik yang membuat mata terasa tergoda untuk melihat apa yang sebenarnya di lihat dalam sebuah kantuk.

Mata kini benar – benar terbuka hingga kini mampu melihat dengan jelas satu cangkir air keruh yang dihiasi oleh asap putih melayang yang terseok – seok terbawa angin yang bertiup di pagi ini, tubuh bergegas menghampiri cangkir itu dan terlihatlah satu kehangatan di pagi yang dingin kali ini, tak perlu lagi berfikir satu teguk langsung masuk kedalam ruang lambung dan tersa hangat tubuh di buatnya, tak hanya satu teguk kali ini berulang kali hingga air keruh yang berwarna coklat itu kini tinggal setengah isinya. Kehangatan kini benar – benar menyelimuti tubuh hingga kaki menjadi sudi tuk melangkah menghampiri air yang dingin untuk membasuh muka, terpaksa air kehangatan itu harus di tinggalkan sejenak hingga wajah terlihat segar.

Saat kembali menuju kehangatan terlihat sosok manusia di balik pintu kamar, tak perlu di hiraukan karena kini fikiran tengah ter fokus ke satu cangkir kehangatan, tapi ah…. Betapa kecewanya saat sosok manusia itu meraih gagang cangkir itu dan kini hati terasa teriris saat terlihat air kehangatan kini tak lagi berada di dalam cangkirnya. Hingga membuat tubuh kembali berbaring dengan berkata beberapa ucapan, “terimakasih kawan kau telah sudi berbagi di pagi yang indah dengan secangkir air kehangatan”

Pagi ibaratkan sebuah awal dan pagi yang indah adalah pagi yang penuh dengan kehangatan…..maka sapalah pagi dengan senyuman…..