Seperti Apakah Aku Ini, Kuat, Bengal, atau Lemah?

30 03 2010

Bila kau katakan aku lelaki yang kuat.
Yah memang aku adalah lelaki yang kuat.
Teringat saat dahulu.
Teringat saat sebuah tongkat besi ku hantamkan.
Kuhantamkan tepat di atas tempurung kepala orang yang tak ku kenal.

Bila kau katakan aku lelaki yang bengal.
Yah aku memang lelaki yang bengal.
Bengal aku saat duduk memutar berkumpul bersama kawan.
Ku tuang dan ku tenggak sebuah air yang sering orang sebut air kedamaian.
Hingga aku terbaring tak berdaya di atas ranjang yang berbau obat.
Darah kentalpun keluar dari mulut yang penuh kebohongan.
Dan kini tak mau ku mengenal lagi apa itu air kedamaian.

Bila kau katakan aku lelaki yang lemah.
Yah’ memang aku lelaki yang lemah.
Aku lemah saat kau tengah terbakar emosi.
Aku lemah saat kau tak mempercayai aku lagi.
Aku lemah saat kau pergi.
Tapi tak apalah, meski aku terliahat lemah.
Tapi aku kan terus tersenyum, bila aku melihat kau bahagia di sana.
Hingga suatu saat kau tahu, memang tak ada kebohongan untukmu.

Magelang, Pagi Hari, 2010-03-30





Batu Kecil Menyakitkan

28 03 2010

Saat kau melihat sebuah batu besar.
Akan jelas terlihat dengan jelas.
Hingga kau injak kan kakimu di atasnya.
Tak akan terasa sakit di telapak kaki.

Tapi saat kau tengah berjalan tanpa alas kaki.
Menyusuri sebuah jalan yang mulus.
Kadang terdapat sebuah batu kecil yang tak terlihat.
Dan jika kau menginjaknya akan terasa sakit di telapak kaki.

Sebuah pembelajaran dalam hidup.
Janganlah mengambil keputusan.
Sebelum jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Akan terasa lebih sakit.
Bila kita mengambil sebuah keputusan pergi.
Sedangkan kita tak mengerti sebuah masalah yang belum kita ketahui.

Magelang, 28/03/2010





Ata’ Dan Tangisan Seorang Ibu

25 03 2010

Malam itu Ata’ kembali lagi melangkahkan kakinya kerumah setelah 1 minggu dia telah pergi entah kemana, setiap langkah nya tak ada tujuan yang pasti yang akan di pilihnya, satu minggu yang lalu dia telah mengambil sebuah keputusan yang salah, dia telah berani melawan sebuah kasih sayang yang telah di berikan oleh kedua orang tuanya, berawal dari sebuah masalah yang tengah menyelimuti Ata’. Dia pergi meninggalkan rumah setelah sang ayah mengusirnya karena tak kunjung pulang selama dua hari dengan jawaban enteng Ata’ pun segera meninggalkan rumah selama satu minggu banyak hal yang dilakukan selama satu minggu yang menggambarkan sebuah pemberontakan seorang anak muda yang tak suka akan sebuah aturan yang di berikan orang tuanya.

Ata’ kini kembali karena panggilan hati dari seorang ibu, dia terlihat telah kembali ke sebuah istana yang penuh kedamaian, yang seolah di sekeliling istana itu terdapat banyak pohon – pohon yang menebarakan aroma kesejukan dalam hati, Ata’ kembali menginjakan kaki nya di sebuah ruang istirahatnya, dia rebahkan tubuhnya diatas tempat tidur itu, sambil memandang sinar lampu yang menyilaukan matanya, tak lama waktu itu ada, tiba – tiba lamunan Ata’ terpecah saat kehadiran ibu menghampirinya, sepatah kata nasihat terlontar dari bibir yang penuh makna dari seorang ibu, usapan hangat tangan ibu membelai tepat di tempurung kepalanya hingga tetes air mata ibu tak kuasa membanjiri wajah ibu, tetes demi tetes telah keluar hingga terjatuh tepat di atas pipi Ata’ , seorang remaja yang keras yang tak lagi memilki rasa lagi sedikitpun.

Terus terdengar isak tangis ibu, dan terus menetes air mata ibu, tak kuasa Ata’ melihatnya hingga air mata pun telah membanjir di atas pipi yang cekung itu, seorang Ata’ yang keras, bahkan seolah kerasnya sepadan dengan kerasnya batu kini luluh tak berdaya saat ibu tengah mengelus tempurung kepalanya, tetes air mata di wajah Ata masih terus membanjiri pipinya dalam hatipun Ata’ mengucap sebuah kata “ ah ibu maafkan aku yang tak mengerti sebuah kasih sayang yang kau berikan untuk ku, hingga akupun berani melawan semua kasih sayangmu itu, ibu maafkanlah aku”.

Aku tak mau mengulangi semua itu yang ke dua kali, aku tak ingin ibu kembali menangis di hadapanku cukuplah hanya satu kali saja, ibu kan selalu ku terima semua bentuk kasih sayangmu padaku, ibu maafkan aku dulu telah membuatmu menangis di hadapanku maafkanlah aku ibu.

Satu pesan untukmu kawan janganlah sekali – kali membuat ibu meneteskan air mata karena tingkah salahmu, kalau kau tak mau mersa remuk jantung dan hatimu………