Ata’ Dan Tangisan Seorang Ibu

25 03 2010

Malam itu Ata’ kembali lagi melangkahkan kakinya kerumah setelah 1 minggu dia telah pergi entah kemana, setiap langkah nya tak ada tujuan yang pasti yang akan di pilihnya, satu minggu yang lalu dia telah mengambil sebuah keputusan yang salah, dia telah berani melawan sebuah kasih sayang yang telah di berikan oleh kedua orang tuanya, berawal dari sebuah masalah yang tengah menyelimuti Ata’. Dia pergi meninggalkan rumah setelah sang ayah mengusirnya karena tak kunjung pulang selama dua hari dengan jawaban enteng Ata’ pun segera meninggalkan rumah selama satu minggu banyak hal yang dilakukan selama satu minggu yang menggambarkan sebuah pemberontakan seorang anak muda yang tak suka akan sebuah aturan yang di berikan orang tuanya.

Ata’ kini kembali karena panggilan hati dari seorang ibu, dia terlihat telah kembali ke sebuah istana yang penuh kedamaian, yang seolah di sekeliling istana itu terdapat banyak pohon – pohon yang menebarakan aroma kesejukan dalam hati, Ata’ kembali menginjakan kaki nya di sebuah ruang istirahatnya, dia rebahkan tubuhnya diatas tempat tidur itu, sambil memandang sinar lampu yang menyilaukan matanya, tak lama waktu itu ada, tiba – tiba lamunan Ata’ terpecah saat kehadiran ibu menghampirinya, sepatah kata nasihat terlontar dari bibir yang penuh makna dari seorang ibu, usapan hangat tangan ibu membelai tepat di tempurung kepalanya hingga tetes air mata ibu tak kuasa membanjiri wajah ibu, tetes demi tetes telah keluar hingga terjatuh tepat di atas pipi Ata’ , seorang remaja yang keras yang tak lagi memilki rasa lagi sedikitpun.

Terus terdengar isak tangis ibu, dan terus menetes air mata ibu, tak kuasa Ata’ melihatnya hingga air mata pun telah membanjir di atas pipi yang cekung itu, seorang Ata’ yang keras, bahkan seolah kerasnya sepadan dengan kerasnya batu kini luluh tak berdaya saat ibu tengah mengelus tempurung kepalanya, tetes air mata di wajah Ata masih terus membanjiri pipinya dalam hatipun Ata’ mengucap sebuah kata “ ah ibu maafkan aku yang tak mengerti sebuah kasih sayang yang kau berikan untuk ku, hingga akupun berani melawan semua kasih sayangmu itu, ibu maafkanlah aku”.

Aku tak mau mengulangi semua itu yang ke dua kali, aku tak ingin ibu kembali menangis di hadapanku cukuplah hanya satu kali saja, ibu kan selalu ku terima semua bentuk kasih sayangmu padaku, ibu maafkan aku dulu telah membuatmu menangis di hadapanku maafkanlah aku ibu.

Satu pesan untukmu kawan janganlah sekali – kali membuat ibu meneteskan air mata karena tingkah salahmu, kalau kau tak mau mersa remuk jantung dan hatimu………


Actions

Information

One response

26 03 2010
diazhandsome

beuh, dalem banget ceritanya. like this deh… *sampe mau nangis, tapi gajadi karena ceritanya udah abis*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: