Kertas

12 02 2014

Selembar ketas putih
Hadir tak bernoda permukaannya.
Berhari, bulan, hingga tahun.
Terlihat sudah goresan pena.

Kadang tersusun kata yang rapi.
Kadang tak teratur penuh noda.
Lusuh, kucal, tak lagi putih.
Sebagai gambaran jiwa yang pedih.

Mungkinkah noda bisa terhapus?
Mungkin tidak jika pupus.
Saatnya lanjut ke lembar baru.
Tuk lanjutkan kebaikan di catatanku.





Pesan Nyanyian Si Burung

20 01 2012

Kicau indah ku menemani sinar mentari pagi ini.
Tau kah kau manusia sungguh indah dunia ini.
Tak usah kau tangisi, tak usah kau sesali.
Biarlah waktu menggulung kesedihan yang telah terjadai.

Memang hidup tak seindah seperti lamunan.
Yang dapat di karang seperti tulisan.
Tapi cobalah kau terus berjuang mencari ke indahan.
Seperti diruku yang selalu mengepakan sayap tuk mencari kehidupan.

Tak pantas kau mengeluh.
Karena usahmu hanya baru mengeluarkan sedikit peluh.
Bangkitlah wahai kawan.
Ku yakin kau kan mendapatkan sebuah kemenangan.





Yang Terlihat Hanyalah Semu

22 08 2010

Hitam tapi tak terlihat hitam
Putih tak lagi terlihat putih.

Hujan tapi tak ada air.
Panas membuat tubuh basah.

Apa yang mampu di lihat sekarang..?
Semua semu, semua tak nyata.

Masih terus berdiri di sini.
Menikmati sebuah kebodohan yang tak terhenti.





Dalam Gelap Ku

5 07 2010

Tak mungkin terus menunggu.
Di sini terasa gelap dan pengap.

Dalam ruang yang sempit aku berdiri.
Tak ada gerak, hanya diam.

Dalam diam ada sebuah angan.
Angan dalam sebuah kegelapan.

Lepaskan dan biarkan ku berlari.
Berlari menju rumput hijau yang penuh imaji.

Bila ku harus tetap di sini.
Ijinkalah aku menyalakan api.

Meski aku sadar, api kan membuat dua piliahan.
Dia akan menerangi atau api akan membakarku di sini.





Puisi Untuk Kawan

6 06 2010

Pulang lah kawan.
Aku tahu mereka menuggu kedatanganmu.
Biarkan aku sendiri.
Menikmati kehidupan yang tak menentu.

Nikmati harimu.
Jalani hidupmu yang indah itu.
Aku sadar .
Aku hanya sosok kawan benalumu.

Ku gantungkan hidupku di kehidupanmu.
Tak pernah ku berikan apa – apa.
Aku hanya bisa selalu meminta.
Ber pangku tangan, meminta belas kasihmu.

Pulanglah kawan.
Aku tahu mereka lebih menyayangimu.
Bahagaikan dirimu.
Ku lepas kau bukan aku tak sayang.
Aku hanya ingin melihat kau tertawa bahagia.

Aku sadar
Hidupmu bukan untuk ku.
Hidup mu untuk mereka.
Selamat tinggal kawan…….





Bagai Senja dan Fajar

13 08 2009

Telinga mendengar hari esok adalah kepergianya
Tetes air ter rasa jatuh dari indahnya kedua mata.

Tak sanggup menahan, tak sanggup membendung.
Kesedihan pun kini hinggap di dalam hati.

Tak pernah lagi menyapa, dan tak dapat lagi untuk bersua.
Bagai siang dan malam, tertaut tapi saling meninggalkan.

Hanya sesekali bertemu, saat senja mulai tiba.
Dan di saat fajar mulai datang.

Kini dia akan segera pergi.
Meninggalkan diri dalam sunyi nan sepi.

Tak mampu menahannya, tuk tetap ada di sisi.
Hanya mampu berdoa, tuk selalu bisa bertemu dalam hati.

Layaknya pertemuan siang dan malam.
Saling meninggalkan, tapi selalu bertemu dalam satu waktu.

Untuk seorang teman yang akan di tinggal sahabat nya pergi, Semoga dia selalu bertemu denganmu meski hanya di dalam hati mu.





Rangkaian Huruf Yang Sirna

7 08 2009

Mata tak melihat, talinga tak mendengar.
Bibir tak berucap, hati tak merasa.
Jari tak menari , kaki tak melangkah.

Semua yang tertulis tak dapat terhapus.
Meski mampu ter tulis, namun tak mampu terbaca.

Semua huruf sirna dari cahaya mata.
Tersimpan di suatu tempat yang terjaga.

Hingga tiba saatnya tempat itu terlihat.
Menampakan kepingan mozaik yang terserak menjadi sebuah kisah yang utuh.

Jika itu telah utuh maka mata melihat,
Telinga mendengar, bibir berucap, hati merasa.
Jari menari, dan kaki melangkah ringan.

Huruf terangkai menjadi kata.
Kata terangkai menjadi kalimat yang tertulis dan terbaca.