Sajadah Cinta Nya

27 07 2009

Ketika hati tertaut dalam bintang dengan jarak yang tak terkira.
Dan terlihat jauh dari pandangan mata.

Angin tak terasa dan tak terdengar.
Suara menjadi tersamarkan tanpa kepastian.

Ketika hamparan langit bertabur bintang membentang.
Memberi cahya, menembus celah sekeping hati.

Melelehkan setiap rasa yang tertuang.
Luruh bersama butir cinta kepadaNya.

Tak ada suara yang mampu keluar.
Hanya bisikan dalam hati yang mampu berbicara.

Hingga airmata kini tumpah tak terbendung.
Dalam sujud panjang diatas sajadah cinta milikNya.





Hilang Karena Rasa

20 07 2009

Saat kau melihatku, ku ingin selalu ada senyum di wajah mu.
Saat kau bersamaku, ku ingin selalu ada tawa kegembiraan di dirimu.

Saat ku lelah, kuingin kau menjadi sandaran tubuhku.
Saat ku bersedih, ku ingin kau usap air mata ku.

Saat ku jauh, ku ingin kau selalu merindukan ku.
Saat ku tak mampu menemuimu, ku ingin kau selalu mengingat diriku.

Saat ku pergi, ku ingin kau jangan tangisi aku.
Saat aku tak ada di dunia, ku ingin kita bersama di alam sana.

Itulah yang ku harapkan jika kau berada di sampingku. Dan inilah yang aku lakukan bila kau berada di sampingku :

Kan kucoba untuk selalu tersenyum bila melihat wajah mu.
Kan kucoba selalu tertawa saat kita bersama.

Aku selalu siap menjadi sandaran tubuh mu.
Kan ku berikan tanganku untuk mengusap air mata mu.

Ku selalu merindukanmu, ku selalu mengingat mu.
Hingga kau pergi, kan ku lepas diri mu dengan senyum ku.

Tapi kini kau menghilang karena sebuah rasa yang datang, rasa yang membuatmu tak nyaman bila berada di sampingku. dan kini ku ucap :

Di dunia persahabatan kita tak lama,
Maafkan aku yang tak mampu mempertahankan nya.

Semua itu karena rasa, rasa yang di miliki setiap insan manusia.
Tak sewajarnya rasa itu ada, dan hadir diantara persahabatan kita.

Rasa itu membuat kau pergi, dengan panas api yang membara.
Semoga kau mau untuk kembali ke sini, menerimaku kembali sebagai sahabatmu lagi.
Karena aku yakin bila kau kembali, persahabatan akan terasa lebih indah lagi.





Bait – Bait Perjalanan

12 07 2009

Lelah luruh dan terhenti, Meski nasib masih tersamar.
Tapi rasa raga tak kuasa.

Bukan takut karena kalah tapi karena memandang nyata.
Merah, hijau, putih, biru, hitam,terkadang kelabu.

Semua itu terangkum dalam setiap episode.
Episode yang terlewati dan harus di lalui.

Bahagia, asa, indah, senyum, tawa, dan sedih.
Tak sedikit air mata menjadi lukisan nya.

Langit luas akan tetap menjadi biru.
Laut luas pun akan tetap membiru.
Hati luas juga akan terus berusaha menjadi biru.





Melangkah Tuk Mengerti Arti Keindahan

3 07 2009

Mencoba menyelusuri jejak arah angin bertiup.
Langkah gontai tak seimbang.

Kadang terhenti di persimpangan jalan.
Tak mengerti kemana arah dan tujuan.

Kekiri lorong hitam dan kanan menuju kebuntuan.
Tak cukup banyak waktu untuk berfikir.

Ke arah depan kaki melangkah pasti.
Meski tau aral rintang tengah mengahadang.

Tapi tetap rela melakukan perjalanan yang panjang.
Meski belum mampu melihat suatu keindahan.





Sedikit Kata-Kata

27 06 2009

Terjebak Waktu

Sunyi tanpa huruf.
Hanya ada dua nafas berbeda.
Satu nafas dan satu nafas dengan kehidupan sendiri.

Tiada mengerti rahasia yang tersimpan dalam setiap nafas.
Sunyi hening
Matapun tertunduk pada ayat cintaNya.

Hingga waktupun terpecah.
Terpecah dalam kisah yang di tentukanNya.

Nikmat Dalam Lelah

Memandang jauh tiada tujuan, ditengah luasnya biru lautan.
Dari atas perahu terlihat garis lurus yang tak terputus.
Seolah terlihat gambaran tentang jalan kemudahan.

Terkadang ombak menggoyang perahu.
Dan diri mencoba menahan keseimbangan.
Tapi tangan terus mendayung ketepian.

Hingga terlihat indahnya pantai di tepian.
Ingin berbaring di lembutnya pasir putih.
Dan tertidur menikmati kesejukan dalam lelah.





Mencoba Melalui Jalan Salah

25 06 2009

Tangis sedih kali ini membawa tawa dalam hati.
Meski hati lain menangis sedih karenanya.

Kemenangan kini ada di depan mata.
Tapi diri masih terdiam dan tak mampu melangkah.

Diri masih setia bergelut di medan peperangan.
Meski hati telah tahu akan mengalami kekalahan.

Dalam hati masih ada setitik harap.
Harapan akan satu kemenangan yang ada dalam impian.

Antara pilihan jalan benar dan salah.
Tapi langkah kali ini memilih jalan yang salah.

Jalan yang terjal dan berliku.
Jalan yang kini di lalui.

Meski jalan salah yang di pilih oleh hati.
Tapi agar mengerti akan arti dari kemenangan.





Semu Harap

21 06 2009

Berjalan mengurai tiap detik waktu.
Luruh pasrah dalam titik.

Melangkah pelan kadang terhenti.
Lalu kaki melangkah lagi.

Ada harap yang tersisa dan hampir tak terlihat.
Kata, kalimat, dan suara yang hampir tak terdengar.