Salahkah Memandang

20 06 2010

Sebuah perbincangan unik dan asyik bersama seorang kawan di sebuah malam yang ramai dan penuh dengan kilaun cahya yang menusuk mata :
awal cerita lagi asyik ngobrol masalah pertandingan futsal tadi siang, tanpa henti kami nyerocos terus karena saking asyiknya perbincangan kami, yah kami memang penggila bola jadi mau apapun dan di manapun pasti selalu ada kata yang menyinggung masalah bola. tapi ada sesuatu yang terjadi hingga obrolan kami terhenti sejenak karena melihat sesosok gadis lewat dengan menggunakan celana pendek hingga terlihat jelas paha mulusnya hahahaha….. gila dahsyat obrolan kami seketika langsung berganti topik. inilah obrolan kami yang sempat aku rekam hehe…

kawan : tuh cewek gak dingin apa pake celana kaya gitu malem – malem kaya gini?

aku : ah udah biasa kalee….

kawan : kira – kira kalau yang mulus tuh di liatin terus bakal marah gak yah?

aku : kayaknya sih marah, coba aja….

sambil ngomong gitu aku langsung ngeloyor ke arah cewek itu tepat dihadapan nya aku bertanya :

aku : mbak boleh tanya sesuatu gak? ( dengan santai dia menjawab ) :

cewek : boleh ‘ mang mau tanya apa’an?

aku : sebelumnya sori loh….

cewek : udah apa’an?

aku : dari tadi aku ma temenku ngeliatin itu ( sambil nunjuk arah bawah yang mulus itu ) mbak marah gak sih?

cewek : brengseek…!!!!!! tiiiiitiiiitiitititititiiiiitiiiiitttttt……. ( sori sensor ).

Tanpa basa basi aku langsung kabur jurus langkah seribu, sembari di iringi makian gadis itu yang semakin hilang…. ku hampiri kawanku dan kami sepontan melepas sebuah tawa akan sebuah aksi kenekatan dan gila yang aku lakuin….sebenarnya aku cuman pengen tahu apakah dia marah kalo di liatin? padahal kan dia udah dengan PD mengenakan celana kaya gitu, kenapa harus marah? ah tak tau lah…..
aku cuman pengen bilang “jangan salahkan kami memandang tapi lihatlah kau memakai sandang”





Ringkasan Lembaran Hitam Si Kecil

17 11 2009

Lembaran Pertama


Lelah terlihat seorang bocah kecil yang tengah duduk di batu besar dan kokoh, dia berada dalam sebuah lamunan yang sesekali di temani lemparan – lemparan kerikil kecil dari tangan nya. Banyak harap yang datang pada sebuah lamunan itu, ia tengah memikirkan sebuah cita – cita yang akan dia gapai kelak, banyak sekali yang dia inginkan dalam sebuah kehidupan di dunia, yang semuanya memiliki tujuan untuk mencapai sebuah kebahagian, di sore yang semakin memerah karena tibanya senja banyak hal yang ia fikirkan dalam sebuah lamunan hingga tak terasa dia telah duduk diam selama dua jam di atas batu besar itu, semua terpecah begitu saja saat terdengar suara memanggil – manggil namanya untuk segera bergegas pulang menuju sebuah kenyamanan istana. Si kecil tebangun dari duduknya tak menghilangkan jejak di sebuah batu yang penuh dengan harapan, langkah demi langkah menyusuri jalan yang curam menuju sebuah istana kedamaian.

Suara alam kembali terdengar kokok ayam membangunkan si kecil dari sebuah mimpi indah yang hadir dalam pejaman mata di malam yang dingin, bergegas ia menuju kamar mandi tuk membersihkan tubuh yang terliahat kusut karena rasa kantuk masih menempel di kedua matanya yang indah, tubuh terasa segar setelah tersiram beberapa guyur air yang dingin, sudah saatnya untuk bergegas mencari satu perjalanan tuk gapai satu impian, dengan mata memandang ke luar jendela kamar terlihat sebuah kecerian akan hadir di luar sana, tapi dia teringat kalau hari itu adalah hari jum’at ia sadar kalau hari itu harus memakai seragam olah raga untuk masuk ke sekolah, tapi entah kenapa si kecil memang lain dari anak – anak yang lain di saat anak lain terlihat senang dengan seragam itu dia malah merasa tidak nyaman bila memakai sebuah seragam yang sedikit elastis bila di tarik, pagi yang cerah berubah menjadi pagi yang membosankan hingga si kecil tak mau memakai seragam yang telah di siapkan ibunya, bahkan dia tak mau berangkat kesekolah bila memakai seragam yang telah di siapkan itu, kelakuanya itu membuat ayah geram melihatnya hingga ayah menyiramya dengan satu ember air ke tubuh si kecil yang di balut dengan kemeja kesayangan nya, semua itu membuatnya semakin jengkel dan benar – benar tak sudi untuk bergegas berangkat kesekolahnya, dia memilih menangis di dalam kamar yang terkunci rapat dari dalamnya. Sebuah lembar hitam pertama untuk si kecil.

Lembaran Ke Dua

Umur si kecil kian bertambah hingga ia telah masuk ke tingkat pendidikan menengah pertama, lagi – lagi dia memilki pemikiran yang lain dari teman – temanya entah kenapa waktu itu dia memilih untuk bersekolah di madrasah plus, yang artinya di dia tengah mencoba untuk menggapai impianya di sekolah yang di dalamnya juga terdapat sebuah pondok pesantren untuk mendidik siswanya, pada awalnya si kecil terlihat mantap tuk menuntut ilmu di ponpes itu, tapi setelah satu tahun berlalu dia terjangkit sebuah penyakit yang harus membuatnya perfikir untuk brgegas keluar dari ponpes itu, setelah satu minggu dia beristirahat di rumah ia langsung meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk keluar dari ponpes itu, kedua orang tua itu tak mampu menolak permitaan dari anak laki – lakinya yang mereka sayangi meski pada awalnya si kecilah yang meminta untuk di sekolahkan di sebuah ponpes.

Satu hari si kecil mulai menjalankan aktifitas belajarnya dengan suasana yang baru, di setiap pagi dia harus menempuh satu jam perjalanan untuk bisa sampai di tempat dia menuntut ilmu, di madrasah itu banyak hal yang tak mudah untuk di lupakan mulai dari menjadinya si kecil sebagai idola hingga kembalinya terukir lembaran hitam si kecil. Di madrasah itu si kecil sempat menjadi sosok idola dari gadis – gadis yang ada di sekolah itu hingga pernah dia mendapat sebuah surat dari seorang gadis tapi sayang si kecil tak tau apa arti dari isi surat itu hingga lembaran kertas indah itu di buang nya begitu saja, kepolosan nya itu ternyata membuat gadis itu terbakar suasana hatinya karena mengtahui si kecil telah menepis satu ungkapan hati sang gadis. si kecil hanya tertawa dalam sebuah kemenangan dalam satu prinsip, “aku tak akan mengenal lebih dalam seorang gadis dengan sebuah kata cinta, sebelum aku benar – benar tahu apa arti kata cinta, walau aku tahu sang gadis telah membuka hatinya dengan berjuta rasa cinta.”

Sudah cukup lama si kecil menjalani waktunya di madrasah tersebut, di balik cerita ke tenaran nya di mata gadis – gadis ada sebuah lembaran hitam yang kembali terlukis dalam perjalanan hidupnya, dimulai dari waktu istirahat tiba dan suara gemuruh terdengar karena langkah kaki para “santri.” begitulah para guru memanggil seluruh anak didiknya di madrasah itu, terlihat si kecil melangkahkan kaki dengan beberapa kawan nya menuju ke sebuah masjid yang memang di dirikan untuk memudahkan proses beribadah para guru dan santri, si kecil dan kawan nya bergerombol menuju lantai atas dari bangunan masjid itu tapi bukan beribadah yang mereka lakukan melainkan mereka beramai – ramai menghisap tembakau yang telah di bakar dengan korek api, hal tersebut tak berlangsung lama karena baru beberapa hisapan saja mereka ketahuan tengah berpesta tembakau oleh salah seorang guru yang menghampiri mereka di lantai atas masjid itu, beberapa kawan si kecil lolos dari sergapan guru itu tapi alangkah malang si kecil dan kedua kawan nya, mereka di giring ke depan kantor guru dan harus menjalani hukuman di tengah lapang yang luas dengan di saksikan benyaknya pasang mata manusia. Rasa malu, takut, penyesalan berbaur menjadi satu di tengah lapang yang panas itu.

Lembaran hitam si kecil di madrasah itu tak hanya sekedar itu saja masih ada satu lembaran yang membuat lembaran semakin terlihat hitam, bahkan bukan untuk si kecil saja tapi lembaran hitam juga membekas di halaman ke hidupan orang tua nya, setelah kejadian tembakau yang panas, si kecil tidaklah tersadar akan kesalahanya tapi dia palah semakin menjadi anak yang beringas dan terkendali, dia menjadi anak yang malas untuk belajar di madrasah itu, hingga dia mencatat sebuah rekor dalam sejarah hidupnya dalam hal menuntut ilmu, rekornya ialah dalam satu bulan penuh dua puluh sembilan hari dia absen dari sekolahnya, yang berarti hanya satu kali dia bertatap muka dengan para guru di madrasah itu, karena tingkahnya itu datanglah sebuah surat undangan kerumah si kecil yang di tujukan kepada orang tuanya, lagi – lagi ayah yang datang memenuhi surat undangan itu, dengan duduk di samping ayah si kecil terdiam mendengar semua apa yang di katakana oleh kepala sekolah hingga sang ayah mengelus kepala dengan di inringi nasihat yang membuat air mata tak mampu di bendung oleh si kecil, terpukul, ter enyuh, dan tersadar akan sebuah kesalah dalam hidup yang mwmbuat Lembaran hitam kedua si kecil kembali tertulis.

Masih ada beberapa lembar hitam yang ada dalam ke hidupan si kecil, ada banyak cerita di sana……





Secangkir Air Kehangtan

5 11 2009

Mata terbuka saat dingin nya pagi meraba tubuh, tak sanggup diri ini untuk segera bangkit dari ranjang yang tak begitu empuk, tubuh terus terdiam menikmati pagi dengan kehangatan selimut yang tebal membalut tubuh yang kecil, sugguh terasa berat pagi ini seolah terus ingin memanjakan diri dalam satu ruangan yang sempit dan dingin, terus mencoba untuk membuka kedua mata dengan memandang sekeliling kamar yang terasa pengab, terus memandang hingga mata harus terhenti di satu titik yang membuat mata terasa tergoda untuk melihat apa yang sebenarnya di lihat dalam sebuah kantuk.

Mata kini benar – benar terbuka hingga kini mampu melihat dengan jelas satu cangkir air keruh yang dihiasi oleh asap putih melayang yang terseok – seok terbawa angin yang bertiup di pagi ini, tubuh bergegas menghampiri cangkir itu dan terlihatlah satu kehangatan di pagi yang dingin kali ini, tak perlu lagi berfikir satu teguk langsung masuk kedalam ruang lambung dan tersa hangat tubuh di buatnya, tak hanya satu teguk kali ini berulang kali hingga air keruh yang berwarna coklat itu kini tinggal setengah isinya. Kehangatan kini benar – benar menyelimuti tubuh hingga kaki menjadi sudi tuk melangkah menghampiri air yang dingin untuk membasuh muka, terpaksa air kehangatan itu harus di tinggalkan sejenak hingga wajah terlihat segar.

Saat kembali menuju kehangatan terlihat sosok manusia di balik pintu kamar, tak perlu di hiraukan karena kini fikiran tengah ter fokus ke satu cangkir kehangatan, tapi ah…. Betapa kecewanya saat sosok manusia itu meraih gagang cangkir itu dan kini hati terasa teriris saat terlihat air kehangatan kini tak lagi berada di dalam cangkirnya. Hingga membuat tubuh kembali berbaring dengan berkata beberapa ucapan, “terimakasih kawan kau telah sudi berbagi di pagi yang indah dengan secangkir air kehangatan”

Pagi ibaratkan sebuah awal dan pagi yang indah adalah pagi yang penuh dengan kehangatan…..maka sapalah pagi dengan senyuman…..





Hilang Karena Rasa

20 07 2009

Saat kau melihatku, ku ingin selalu ada senyum di wajah mu.
Saat kau bersamaku, ku ingin selalu ada tawa kegembiraan di dirimu.

Saat ku lelah, kuingin kau menjadi sandaran tubuhku.
Saat ku bersedih, ku ingin kau usap air mata ku.

Saat ku jauh, ku ingin kau selalu merindukan ku.
Saat ku tak mampu menemuimu, ku ingin kau selalu mengingat diriku.

Saat ku pergi, ku ingin kau jangan tangisi aku.
Saat aku tak ada di dunia, ku ingin kita bersama di alam sana.

Itulah yang ku harapkan jika kau berada di sampingku. Dan inilah yang aku lakukan bila kau berada di sampingku :

Kan kucoba untuk selalu tersenyum bila melihat wajah mu.
Kan kucoba selalu tertawa saat kita bersama.

Aku selalu siap menjadi sandaran tubuh mu.
Kan ku berikan tanganku untuk mengusap air mata mu.

Ku selalu merindukanmu, ku selalu mengingat mu.
Hingga kau pergi, kan ku lepas diri mu dengan senyum ku.

Tapi kini kau menghilang karena sebuah rasa yang datang, rasa yang membuatmu tak nyaman bila berada di sampingku. dan kini ku ucap :

Di dunia persahabatan kita tak lama,
Maafkan aku yang tak mampu mempertahankan nya.

Semua itu karena rasa, rasa yang di miliki setiap insan manusia.
Tak sewajarnya rasa itu ada, dan hadir diantara persahabatan kita.

Rasa itu membuat kau pergi, dengan panas api yang membara.
Semoga kau mau untuk kembali ke sini, menerimaku kembali sebagai sahabatmu lagi.
Karena aku yakin bila kau kembali, persahabatan akan terasa lebih indah lagi.





Ayah

12 07 2009


Ayah itu…. Tidak cuma Ayah.
Ayah itu…. Ya teman ya kakak.
Ayah itu…. Bisa menyelsaikan sesuatu yang tidak bisa kita selsaikan.

Ayah itu….. Bijaksana dalam segala hal.
Ayah itu….. My hero ( pahlawan ).

Ayah itu…. Tegas, tapi bisa jadi teman.
Ayah itu….. Seseorang yang mampu berkomunikasi yang lancar dengan anak.

Ayah itu….. Seseorang yang mencintai serta bertanggung jawab bagi keluarganya.
Ayah itu….. Pelindung keluarga.

Ayah itu….. Pengayom keluarga, bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga.
Ayah itu….. Penuh cinta dan kasih sayang, perhatian dan setia.

Itulah seklumit komentar teman-teman dan sahabat- sahabat ku ketika aku tanyakan seperti apakah sosok ayah menurut pandangan mereka.

Kalau buat diriku sendiri ayah adalah : Dialah yang menjaga ku di dalam setiap langkah hidupku, Dialah yang mengajariku untuk menjadi yang terbaik dalam menjalani hidup, Dialah sebagai penopang hidup ku dan keluargaku, Dialah yang aku panggil saat aku mulai ke hilangan arah, Dialah pahlawan terhebatku, Dialah inspirasiku sebagai laki-laki, dari semua itu maka hanya semua kata-kata indah lah yang pantas di ucapakan untuknya.

Ayah terima kasih atas semua yang telah kau berikan untuk ku, maaf kan aku di saat aku membuat mu memberikan satu rasa kecewa terhadap diriku, do`a kan aku semoga kelak aku mampu menjadi ayah yang ter istimewa seperti dirimu. Amin…

Nah seperti apakah sosok ayah menurutmu? Aku yakin akan keluar kata-kata yang manis dari mulut kecilmu untuk seorang ayah, semoga…..