Lembaran Pertama
Lelah terlihat seorang bocah kecil yang tengah duduk di batu besar dan kokoh, dia berada dalam sebuah lamunan yang sesekali di temani lemparan – lemparan kerikil kecil dari tangan nya. Banyak harap yang datang pada sebuah lamunan itu, ia tengah memikirkan sebuah cita – cita yang akan dia gapai kelak, banyak sekali yang dia inginkan dalam sebuah kehidupan di dunia, yang semuanya memiliki tujuan untuk mencapai sebuah kebahagian, di sore yang semakin memerah karena tibanya senja banyak hal yang ia fikirkan dalam sebuah lamunan hingga tak terasa dia telah duduk diam selama dua jam di atas batu besar itu, semua terpecah begitu saja saat terdengar suara memanggil – manggil namanya untuk segera bergegas pulang menuju sebuah kenyamanan istana. Si kecil tebangun dari duduknya tak menghilangkan jejak di sebuah batu yang penuh dengan harapan, langkah demi langkah menyusuri jalan yang curam menuju sebuah istana kedamaian.
Suara alam kembali terdengar kokok ayam membangunkan si kecil dari sebuah mimpi indah yang hadir dalam pejaman mata di malam yang dingin, bergegas ia menuju kamar mandi tuk membersihkan tubuh yang terliahat kusut karena rasa kantuk masih menempel di kedua matanya yang indah, tubuh terasa segar setelah tersiram beberapa guyur air yang dingin, sudah saatnya untuk bergegas mencari satu perjalanan tuk gapai satu impian, dengan mata memandang ke luar jendela kamar terlihat sebuah kecerian akan hadir di luar sana, tapi dia teringat kalau hari itu adalah hari jum’at ia sadar kalau hari itu harus memakai seragam olah raga untuk masuk ke sekolah, tapi entah kenapa si kecil memang lain dari anak – anak yang lain di saat anak lain terlihat senang dengan seragam itu dia malah merasa tidak nyaman bila memakai sebuah seragam yang sedikit elastis bila di tarik, pagi yang cerah berubah menjadi pagi yang membosankan hingga si kecil tak mau memakai seragam yang telah di siapkan ibunya, bahkan dia tak mau berangkat kesekolah bila memakai seragam yang telah di siapkan itu, kelakuanya itu membuat ayah geram melihatnya hingga ayah menyiramya dengan satu ember air ke tubuh si kecil yang di balut dengan kemeja kesayangan nya, semua itu membuatnya semakin jengkel dan benar – benar tak sudi untuk bergegas berangkat kesekolahnya, dia memilih menangis di dalam kamar yang terkunci rapat dari dalamnya. Sebuah lembar hitam pertama untuk si kecil.
Lembaran Ke Dua
Umur si kecil kian bertambah hingga ia telah masuk ke tingkat pendidikan menengah pertama, lagi – lagi dia memilki pemikiran yang lain dari teman – temanya entah kenapa waktu itu dia memilih untuk bersekolah di madrasah plus, yang artinya di dia tengah mencoba untuk menggapai impianya di sekolah yang di dalamnya juga terdapat sebuah pondok pesantren untuk mendidik siswanya, pada awalnya si kecil terlihat mantap tuk menuntut ilmu di ponpes itu, tapi setelah satu tahun berlalu dia terjangkit sebuah penyakit yang harus membuatnya perfikir untuk brgegas keluar dari ponpes itu, setelah satu minggu dia beristirahat di rumah ia langsung meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk keluar dari ponpes itu, kedua orang tua itu tak mampu menolak permitaan dari anak laki – lakinya yang mereka sayangi meski pada awalnya si kecilah yang meminta untuk di sekolahkan di sebuah ponpes.
Satu hari si kecil mulai menjalankan aktifitas belajarnya dengan suasana yang baru, di setiap pagi dia harus menempuh satu jam perjalanan untuk bisa sampai di tempat dia menuntut ilmu, di madrasah itu banyak hal yang tak mudah untuk di lupakan mulai dari menjadinya si kecil sebagai idola hingga kembalinya terukir lembaran hitam si kecil. Di madrasah itu si kecil sempat menjadi sosok idola dari gadis – gadis yang ada di sekolah itu hingga pernah dia mendapat sebuah surat dari seorang gadis tapi sayang si kecil tak tau apa arti dari isi surat itu hingga lembaran kertas indah itu di buang nya begitu saja, kepolosan nya itu ternyata membuat gadis itu terbakar suasana hatinya karena mengtahui si kecil telah menepis satu ungkapan hati sang gadis. si kecil hanya tertawa dalam sebuah kemenangan dalam satu prinsip, “aku tak akan mengenal lebih dalam seorang gadis dengan sebuah kata cinta, sebelum aku benar – benar tahu apa arti kata cinta, walau aku tahu sang gadis telah membuka hatinya dengan berjuta rasa cinta.”
Sudah cukup lama si kecil menjalani waktunya di madrasah tersebut, di balik cerita ke tenaran nya di mata gadis – gadis ada sebuah lembaran hitam yang kembali terlukis dalam perjalanan hidupnya, dimulai dari waktu istirahat tiba dan suara gemuruh terdengar karena langkah kaki para “santri.” begitulah para guru memanggil seluruh anak didiknya di madrasah itu, terlihat si kecil melangkahkan kaki dengan beberapa kawan nya menuju ke sebuah masjid yang memang di dirikan untuk memudahkan proses beribadah para guru dan santri, si kecil dan kawan nya bergerombol menuju lantai atas dari bangunan masjid itu tapi bukan beribadah yang mereka lakukan melainkan mereka beramai – ramai menghisap tembakau yang telah di bakar dengan korek api, hal tersebut tak berlangsung lama karena baru beberapa hisapan saja mereka ketahuan tengah berpesta tembakau oleh salah seorang guru yang menghampiri mereka di lantai atas masjid itu, beberapa kawan si kecil lolos dari sergapan guru itu tapi alangkah malang si kecil dan kedua kawan nya, mereka di giring ke depan kantor guru dan harus menjalani hukuman di tengah lapang yang luas dengan di saksikan benyaknya pasang mata manusia. Rasa malu, takut, penyesalan berbaur menjadi satu di tengah lapang yang panas itu.
Lembaran hitam si kecil di madrasah itu tak hanya sekedar itu saja masih ada satu lembaran yang membuat lembaran semakin terlihat hitam, bahkan bukan untuk si kecil saja tapi lembaran hitam juga membekas di halaman ke hidupan orang tua nya, setelah kejadian tembakau yang panas, si kecil tidaklah tersadar akan kesalahanya tapi dia palah semakin menjadi anak yang beringas dan terkendali, dia menjadi anak yang malas untuk belajar di madrasah itu, hingga dia mencatat sebuah rekor dalam sejarah hidupnya dalam hal menuntut ilmu, rekornya ialah dalam satu bulan penuh dua puluh sembilan hari dia absen dari sekolahnya, yang berarti hanya satu kali dia bertatap muka dengan para guru di madrasah itu, karena tingkahnya itu datanglah sebuah surat undangan kerumah si kecil yang di tujukan kepada orang tuanya, lagi – lagi ayah yang datang memenuhi surat undangan itu, dengan duduk di samping ayah si kecil terdiam mendengar semua apa yang di katakana oleh kepala sekolah hingga sang ayah mengelus kepala dengan di inringi nasihat yang membuat air mata tak mampu di bendung oleh si kecil, terpukul, ter enyuh, dan tersadar akan sebuah kesalah dalam hidup yang mwmbuat Lembaran hitam kedua si kecil kembali tertulis.
Masih ada beberapa lembar hitam yang ada dalam ke hidupan si kecil, ada banyak cerita di sana……